Friday, August 4, 2017

Membuat Inquiries Sederhana Microsoft Dynamic AX 2012 (AXAPTA)

Pada Tutorial ini saya akan membahas dasar untuk membuat sebuah inquiries sederhana pada Microsoft Dynamic AX yang ditujukan untuk memudahkan user dalam mengakses data. Tentunya apabila inquiries sudah kita optimalkan dan juga filternya sudah berjalan semua namun pada tutorial kali ini akan saya mulai dengan hanya membuat inquiries paling sederhana yaitu menampilkan isi dari sebuah tabel, contohnya tabel PurchTable.
  1. Buka Ms Dynamic AX dan masuk mode Development dengan menekan tombol CTRL + D.
  2. Buat Project baru dengan cara buka menu Project, kemudian pada folder shared klik kanan New dan isikan nama Project, kali ini saya menggunakan nama SAN_LatihanLukman.
  3. Setelah Project terbuat, buat form dengan cara klik kanan pada nama Project pilih New kemudian Form, maka akan seperti gambar di bawah ini :
  4. Secara default setelah form terbentuk akan ada Methods, Data Sources, Parts, Designs, Permisssions. Untuk langkah awal klik kanan pada Data Sources kemudian pilih New Data Source dan seperti biasanya berikan nama untuk Data Source Baru atau pada contoh ini saya biarkan dengan nama default DataSource 1.
  5. Klik kiri pada DataSource 1 dan lihat pada windows sebelah kanan, kemudian pada Table pilih PurchTable (pilih tabel yang akan digunakan sebagai source).
  6. Setalah DataSource siap, kita akan mulai mengatur tampilan darin inquiries yaitu pada bagian Designs pada Form. Klik tombol + pada Designs.
  7. Akan ada 2 item pada Designs yaitu Design dan Design List, gunakan design untuk memulai membuat interface sedangkan design list akan memunculkan detail item apa saja yang kita gunakan pada interface.
  8. Klik kanan pada Designs kemudian New Control pilih Grid (disini grid kita gunakan untuk menampilkan data).
  9. Untuk memaksimalkan Grid agar bisa full screen klik pada Grid, pada windows kanan bagian Width ubah dari auto menjadi Column width, Height ubah dari auto menjadi Column Height dan pada Allow Edit ubah dari Yes menjadi No (agar inquiries datanya tidak dapat diubah user karena tujuannya hanya ditampilkan).
  10. Setelah grid terbentuk kita akan memastikan field mana saja akan kita tampilkan pada grid dari tabel PurchTable, buat satu persatu field dengan cara klik kanan New Control dan pilih sesuai dengan tipe data dari field tersebut, misal PurchName menggunakan StringEdit, AccountingDate menggunakan DateEdit.
  11. Pada contoh simple kali ini kita akam membuat field PurchID, PurchName, AccountingDate dan InvoiceAccount (apabila ingin lebih silahkan anda tambahkan sendiri). Setelah dibuat masing-masing tipe data perlu dicocokan dengan data pada tabel dengan cara klik salah satu control baru dari grid misal PurchID kemudian pada windows sebelah kanan cari bagian DataSource ubah dari kosong menjadi sesuai datasource kalian misal DataSource 1, DataField ubah dari kosong menjadi sesuai dengan field yang diinginkan misal PurchID.
  12. Lakukan hal yang sama pada setiap control baru yang dibuat dari data Grid.
  13. Setelah itu coba buka form untuk memastikan apa sudah berjalan untuk inquiries ini, dengan cara klik kiri pada form kemudian pilih Open
  14. Apabila sudah sesuai harusnya akan muncul tampilan seperti di bawah
Sekian tutorial dasar pembuatan Inquiries pada Microsoft Dynamic AX 2012 (AXAPTA), untuk filter data dan menggunakan lebih dari 1 datasource akan saya bahas pada artikel selanjutnya.

Menjalankan Program Dengan User Lain

Terkadang ada kalanya kita butuh untuk menjalankan suatu program dengan menggunakan user lain, apalagi kalau kita bekerja pada bagian IT suatu perusahaan yang akan mencoba untuk melakukan test settingan baru pada user tertentu maka cara ini akan sangat membantu ketimbang harus mencoba langsung pada PC / Laptop user.

Pada contoh kali ini saya akan mencoba running Microsoft Dynamic AX dengan menggunakan user lain selain administrator, caranya cukup mudah yaitu buka cmd atau commandpromt kemudian ketikkan perintah seperti berikut tanpa kurung :

(runas /user:domain\nama_user "ax32 c:\SAN_LIVE.axc")

Setelah itu akan ditanyakan password untuk user tersebut, masukkan dan enter. Dengan perintah di atas cukup akan membuat running program kalian dengan user yang diinginkan.

Thursday, July 6, 2017

PORT FORWARDING MIKROTIK

Bagi temen-temen yang sudah sering bergelut di bidang IT lebih spesifik ke jaringan komputer maka Port Forwarding sudah menjadi hal yang biasa, tujuannya adalah agar kita dapat mengakses perangkat yang berada di dalam network dari luar network atau internet padahal IP Public hanya ada satu atau terbatas.

Port forwarding sering digunakan untuk CCTV agar dapat diakses dari internet, pada kesempatan kali ini saya akan mencontohkan melakukan port forwarding pada mikrotik menggunakan winbox dengan persepsi settingan standart mikrotik sudah dilakukan dan IP Public terpasang pada mikrotik.




  1. Klik IP - Firewall - NAT
  2. Klik Add / Tambah dan masukkan settingan seperti berikut tab General, isikan Chain dengan dstnat, masukkan IP Public pada Dst. Address, Pilih protocol tcp dan isikan Port sewaktu mengakses dari internet :
    Port Forward Mikrotik NAT
  3. Setelah itu pindah ke tab Action, pilih dst-nat pada Action dan masukkan alamat IP Address local DVR CCTV ke To Addresses dan masukkan port DVR pada bagian To Ports.
    Port Forwarding Mikrotik Untuk CCTV
  4. Klik OK dan silahkan lakukan pengujian.

Sekian cara melakukan port forwarding pada mikrotik, yang pada contoh kali ini saya mencoba melakukan port forwarding mikrotik untuk CCTV agar dapat diakses dari luar jaringan / dari internet.

Monday, July 3, 2017

KONFIGURASI LOAD BALANCING MIKROTIK

Metode load balancing banyak orang yang salah mengartikan, kebanyakan dari mereka menganggap bahwa dengan melakukan load balancing maka kecepatan atau bandwith internet akan diakumulasi.
Misal :

  • ISP 1 bandwith 5 Mb
  • ISP 2 bandwith 3 Mb
Kebanyakan akan menganggap setelah di load balancing jaringan mereka memiliki bandwith 8 Mb, padahal yang terjadi tidak seperti itu, load balancing hanya akan membagi dan berusaha menyeimbangkan pemakaian bandwith menurut jumlah paket yang keluar, jadi akan tetap tidak imbang apabila jumlah paket yang masuk ISP 1 dan ISP 2 ukurannya berbeda.

Namun dengan metode ini setidaknya distribusi pemakaian bandwith antara ISP 1 dan ISP 2 dibagi secara rata sesuai jumlah paket dan efeknya adalah mengurangi kemungkinan 1 ISP sampai habis bandwithnya terpakai dan ISP lainnya free. Berikut contoh konfigurasi load balancing mikrotik.

ISP 1 : 192.168.1.1/24
ISP 2 : 192.168.2.1/24

  1. Ubah nama Interface menjadi ISP1, ISP2 dan LAN
  2. Tambahkan IP Address untuk Interface ISP 1, ISP 2 dan LAN


  3. Setting pada IP - Firewall - Mangle, untuk menandai Connection dan Routing kedua ISP
    > Mark Connection ISP 1:


    > Mark Connectin ISP 2 ( Dengan cara seperti mark connection ISP 1 )

    >  Mark Routing ISP 1 :


    > Mark Routing ISP 2 ( Dengan cara seperti mark routing ISP 1 )
  4. Lakukan setting NAT pada IP - Firewall - NAT untuk kedua ISP

    lakukan juga untuk ISP 2.
  5. Buat routingan untuk kedua ISP dan routingan utama pada IP - Routes - Klik + (untuk menambahkan routingan baru).
    > Buat Default Routing untuk ISP 1 :


    > Buat Default Routing untuk ISP 2 :


    > Buat Default Routing Utama :

Dan akhirnya sampai pada tahap pengujian settingan load balancing. Anda bisa melihat pada statistik masing-masing interface baik di ISP 1 dan ISP 2 mikrotik jika anda melakukan aktifitas browsing dll dari PC client. 

Thursday, June 29, 2017

Memberikan Nilai Cost Pada Routing OSPF

OSPF (Open Shortest Path First) adalah bagian dari routing protokol yang hanya dimiliki oleh cisco, tentu bukan tanpa alasan mengapa OSPF menjadi salah satu routing protokol yang dianggap handal. OSPF memiliki kemampuan untuk menilai cost terbaik dari sebuah rute pengiriman data, cost ini ditentukan oleh interface yang dilalui oleh data tersebut.

Misalkan apabila suatu data melalui perangkat yang memiliki 2 interface dimana interface pertama adalah fastehternet dan interface kedua adalah ethernet maka data akan dilewatkan ke interface yang dianggap lebih baik dalam hal ini fastethernet. Kemampuan memberikan penilaian atau cost ini yang menjadi salah satu pembeda OSPF dan juga merupakan keunggulannya. Tidak perlu khawatir admin dari suatu jaringan bisa secara manual memberikan nilai cost. Berikut contoh konfigurasi OSPF mengunakan cost :

Apabila kita menggunakan cara routing OSPF seperti biasa tentu saja bisa, namun agar sedikit berbeda kali ini kita akan mencoba membuat routingan menjadi searah jarum jam memanfaatkan cost pada OSPF, semakin kecil cost maka semakin menjadi prioritas.

Router0 :
Router>enable
Router#configure terminal
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.
Router(config)#interface gigabitEthernet 0/1
Router(config-if)#ip ospf cost 1
Router(config-if)#exit 
Router(config)#interface gigabitEthernet 0/2
Router(config-if)#ip ospf cost 100
Router(config-if)#exit

Router(config)#router ospf 1
Router(config-router)#network 192.168.1.0 0.0.0.255 area 1
Router(config-router)#network 192.168.5.0 0.0.0.255 area 1
Router(config-router)#network 192.168.8.0 0.0.0.255 area 1
Router(config-router)#exit
Router(config)#exit


Router1 :
Router>enable
Router#configure terminal
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.
Router(config)#interface gigabitEthernet 0/1
Router(config-if)#ip ospf cost 100
Router(config-if)#exit 
Router(config)#interface gigabitEthernet 0/2
Router(config-if)#ip ospf cost 1
Router(config-if)#exit

Router(config)#router ospf 1
Router(config-router)#network 192.168.2.0 0.0.0.255 area 1
Router(config-router)#network 192.168.7.0 0.0.0.255 area 1
Router(config-router)#network 192.168.8.0 0.0.0.255 area 1
Router(config-router)#exit
Router(config)#exit


Router2 :
Router>enable
Router#configure terminal
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.
Router(config)#interface gigabitEthernet 0/1
Router(config-if)#ip ospf cost 100
Router(config-if)#exit 
Router(config)#interface gigabitEthernet 0/2
Router(config-if)#ip ospf cost 1
Router(config-if)#exit

Router(config)#router ospf 1
Router(config-router)#network 192.168.3.0 0.0.0.255 area 1
Router(config-router)#network 192.168.5.0 0.0.0.255 area 1
Router(config-router)#network 192.168.6.0 0.0.0.255 area 1
Router(config-router)#exit
Router(config)#exit


Router3 :
Router>enable
Router#configure terminal
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.
Router(config)#interface gigabitEthernet 0/1
Router(config-if)#ip ospf cost 100
Router(config-if)#exit 
Router(config)#interface gigabitEthernet 0/2
Router(config-if)#ip ospf cost 1
Router(config-if)#exit

Router(config)#router ospf 1
Router(config-router)#network 192.168.4.0 0.0.0.255 area 1
Router(config-router)#network 192.168.6.0 0.0.0.255 area 1
Router(config-router)#network 192.168.7.0 0.0.0.255 area 1
Router(config-router)#exit
Router(config)#exit


Dengan konfigurasi seperti di atas pada semua router maka routing akan berjalan searah dengan jarum jam karena nilai cost searah jarum jam lebih kecil dan menjadi prioritas utama. Apabila masih ada yang kurang jelas silahkan meninggalkan komentar.